Selasa, 22 Januari 2013

KURIKULUM BUNGLON


Manusia sama saja dengan binatang, selalu perlu makan.

Namun caranya berbeda dalam memperoleh makanan.

Binatang tak mempunyai akal dan pikiran

Segala cara halalkan demi perut kenyang

Binatang tak pernah tahu rasa belas kasihan

Tak peduli sahabat kental  kurus kering kelaparan “

                                                                                                                              (Opini, Iwan Fals)


Petikan lagu di atas bukan omong kosong dan mimpi disiang bolong.. Sebab kenyataannya orang berebut posisi demi uang, harga diri dan gengsi. Seperti yang terjadi saat ini, di mana penduduk Indonesia sangat membutuhkan suatu pedoman pembelajaran (dalam hal ini kurikulum) untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mereka sibuk mencari proyek pembuatan kurikulum terbaru dan tercanggih yang dapat digunakan sampai akhir zaman.


Apakah Anda ingat, berapa kali kurikulum kita berubah? Tentu jawabannya, wah, lupa-lupa ingat. Mengapa jawabannya demikian? Karena  telinga kita terlalu sering mendengar pergantian kurikulum, sampai berkali-kali. Wajar saja kalau Anda berpikiran seperti itu karena memang dunia pendidikan kita rajin sekali berubah dan tak pernah ajeg. Selalu “mengambang”. Bahkan banyak kalangan mengatakan, ganti menteri ganti kurikulum. Mereka ingin dipandang sebagai ilmuwan yang kreatif, inovatif, dan produktif. Bahkan ingin menjadi “pahlawan pendidikan”. Ada semacam gengsi jika mereka tidak merubah kurikulum.


Perubahan kurikulum tersebut, menurut catatan, lebih dari enam kali, yaitu pada tahun 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan kemarin, baru saja guru sedikit memahami KTSP, kini harus dignti lagi dengan kurikulum yang katanya lebih sederhana, yang akan dapat lebih dipahami oleh peserta didik.

Masalah baru akan timbul pada pemabgian jumlah jam mengajar per minggu, dengan adanya syarat mutlak untuk mendapatkan tunjangan profesi, yakni setiap guru kelas harus memiliki minimal 24 jam per minggu. lihat saja, banyak guru PNS yang berebut jam dengan guru PNS lain, yang lebih mengenaskan, guru PNS tega mengambil jam guru sukwan demi sebuah tunjangan.

Monster apalagi ini? Mereka tidak pernah tahu bahkan mungkin tidakl mau tahu bahwa dampak yang ditimbulkan dengan adanya bongkar pasang kurikulum akan sangat berpengaruh terhadap  lembaga pendidikan dan orang tua siswa. Rakyat menjerit, karena tingkat perekonomian masyarakat kita jauh di bawah standar. Mereka harus membeli buku baru, sesuai dengan kurikulum yang tengah diterapkan. Setiap tahun pelajaran baru, maka bukunya pasti baru. Demikian pula dengan sekolah. Pihak guru selalu direpotkan dengan memilih penerbit mana yang sesuai dengan kurikulum yang sedang berlaku dan harganya paling murah. Buku yang berisi kurikulum pun harus dibeli dengan harga yang sangat mahal. Cukup untuk gaji seorang guru honor selama satu bulan. Lucunya lagi, pedoman tentang kurikulum sudah beredar, buku-buku yang sesuai dengan kurikulum pun belum ada yang menerbitkan. Bagaimana  mereka bisa belajar?


Para guru pusing dengan keadaan demikian, karena mereka harus mengganti satuan pelajaran yang biasanya hanya dengan mengganti tanggal dan tahunnya, mereka dapat memperoleh kredit poin untuk mendapatkan “kenaikan pangkat”, sekarang mereka harus menggantinya dengan yang baru.


Betapa tragis dan mengenaskannya dunia pendidikan kita. Uang BOS akhirnya sebagian besar digunakan untuk membeli buku baru, karena buku lama sudah tidak sesuai lagi dengan kurikulum. Celakanya lagi, buku-buku tersebut sudah “didrop” oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.


Lantas, bagaimana dengan aspek-aspek lain yang seharusnya mendapat pehatian dari uang BOS, sepertii peningkatan kinerja guru, kepala sekolah, honor guru-guru sukwan yang tanpa uang tersebut mereka “senen kemis” menatap masa depan dan perawatan gedung yang sebagian besar sudah hampir roboh dimakan usia. Sekarang sekolah-sekolah disibukkan dengan pergantian kurikulum. Mereka tidak berpikir betapa susahnya mengajar, mendidik dan mengelola administrasi sekolah. Menurut instruksi atasan, perawatan buku-buku pelajaran ditentukan harus masih tetap bagus selama enam tahun. Apakah mereka tidak tahu, kelakuan dan kebiasaan anak didik apabila dibagikan buku untuk mempermudah menyampaikan materi pelajaran, buku tersebut akan kumal dan robek. Sebab keseharian pada waktu sekolah saja, anak didik kita berpakaian seadanya dengan pakaian seragam merah putih yang ganti empat hari sekali. Ini dapat dilihat di desa-desa wilayah Kecamatan Terisi khususnya. Mereka hanya berpikir dengan pergantian kurikulum, bisnis perbukuan untuk didrop di sekolah-sekolah akan mendapatkan banyak keuntungan. Alhasil, kadang-kadang buku tersebut tidak sesuai dengan kurikulum yang sedang berlaku. Para gurulah yang menjadi korban! 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar